Category Archives: Books

Cinta (Tidak Harus) Mati – a book by Henry Manampiring

Honestly, I never thought that I would find this book, because I couldn’t find it in my usual bookstore. However, I found it unexpectedly when I was looking for another book. When I read the first chapter, I instantly loved it 😀

The first thing I noticed about the book is how colorful it is! With the shades or red, green, orange, and purple, this book managed to mask its seriousness with fun colors. The first two chapters are the results of the two surveys that @newsplatter did previously on Twitter: Survei Jomblo Nasional and Survei Gebet Nasional. @newsplatter, also known as Om Piring, also gave analysis and comments on the results, which makes the book very fun to read. At first.

When you read the remaining chapters, they are all opinions (or, in his words: “reflections”) about love, life, and self-discoveries, and most of them are already published on his blog. What’s interesting about those chapters, is that it doesn’t only contain his opinions, but also interesting facts and previous research about the issue! For me, it’s like reading a social science journal, only funner 😀

Unfortunately, there are some things that I regret about the book. First, about the “quotes” that started each chapter. For quotes, it’s not memorable enough. They are only bits that started a sentence, and not the best part about the chapter.

And lastly, about the length of each chapter. I like Om Piring’s writing style, and how he can convey his opinions, and add some facts with it. However, some of his chapters are not long enough! In some chapters I feel like he can explore more about the issue, but then he just stopped unexpectedly. I mean, come on 😦

In conclusion, do I think this book is worth buying? Definitely. This book can make you laugh, and make you think about your surroundings. If you want a book that can entertain and educate you at the same time, this is the book for you.

Tagged , , , , , , ,

The Not-So-Amazing Life of @aMrazing – a book by Alexander Thian

image

I made a draft of my review before, but one thing led to another, I lost it. It took a while for me to remember what I wrote, but here it is.

I’ll say this proudly: I’m one of those “lucky people” who pre-ordered this book way before Eid-ul Fitr, therefore got the chance to read it firsthand! Too bad I didn’t get the quoted book, though.

Moving on.

I followed Alex on Twitter for less than a year now, and I’m still enjoying his tweets. I first read his published writing on Cerita Sahabat, where he wrote several short stories. Among all the writers in that book, his stories are among the best ones, and definitely the ones I enjoyed the most. That’s why when I heard about this book, I wasted no time to pre-order it, with high expectations in my head.

And boy oh boy my expectations did not fail me. He delivered this book very nicely. It’s like you’re sitting around after a long day of work with Alex himself in a coffee shop, and he’s telling you stories. Quite relaxing, so to speak.

And not only did he share his funny stories, he also shared his life-changing story that are not only true, but it gives you – the readers – a chance to learn from his lesson. You laugh and cry with him while you read this book.

My favorite part of reading a book: finding the mistakes! (I’m sorry, it’s the bitch-editor-part of me speaking!). The editor(s) at GagasMedia really did their job well here, cause I only found one mistake, and it’s a minor one, so I don’t think people will notice it. It won’t change your experience when you read this book either, so all in all, it’s still good 🙂

I must say that I really enjoyed reading this book, and I expect more books from Alex in the years to come 🙂

Tagged , , , , , , ,

M2L (Men 2 Love) – a Novel by Andrei Aksana

Aaah Andrei.. He’s my favorite male metropop-writer. I fell in love with his books since Pretty Prita and been in love since then 😛

Back to the book. Kalo ngeliat cover buku ini, mungkin agak beda dari novel-novel Andrei lainnya kayak Lelaki Terindah, Cinta 24 Jam, atau Abadilah Cinta yang memiliki kesan serius dan ‘berat’. Yah, mirip sama Pretty Prita, buku Andrei yang satu ini memang memiliki segmen teenagers instead of adults.

Sekilas aja mengenai bukunya, tokoh utamanya adalah seorang cewek bernama Abel yang mengalami kegagalan cinta dan dicomblangin sama Helen, temen baiknya, dengan Recko. Pacaran dengan Recko ternyata masih kurang buat Abel, sampe akhirnya dia pacaran lagi dengan Billy. The drama queen is in love with 2 guys. Imagine the ending 😛

Well, seperti yang gw bilang tadi, novel Andrei yang ini memang lebih ringan daripada kebanyakan novelnya. Dengan bahasa yang ga terlalu remaja tapi ga terlalu serius juga, gw rasa Andrei sukses menceritakan novel ini dengan gayanya. He’s a man with a woman’s writing style. Maybe that’s why i love his writings. Walaupun peran utamanya adalah seorang cewek, Andrei bisa ‘menjadi’ cewek itu, bahkan tau kebiasaan cewek-cewek macem Abel! Weleh, gw yang cewek aja ga sampe sedetil itu tauya 😛

Trus lagi, konsep ceritanya. Lagi-lagi, Andrei bisa membawakan konsep cerita yang ‘sederhana’ menjadi terkesan lebih. Bukan lebay, tapi lebih, dalam arti sisi sederhana dari konsep itu jadi tersamarkan dengan sangat baik. Ini juga yang gw suka dari karya-karyanya. Konsepnya ga terlalu rumit, tapi dengan pembawaannya yang khas ceritanya jadi bagus.

But, unfortunately, gw masih merasa cerita ini terlalu ringan untuk seorang Andrei… Kalo dibandingkan sama Pretty Prita, buku ini masih belum ada apa-apanya… Ceritanya bagus sih, tapi pas udah selesai bacanya, kayak ga puas gitu. It’s as if something’s missing.. Well, i don’t know what it is, but i’m sure it’s something important… Untuk itu, gw rasa nilai 6,5 dari 10 cukup buat Andrei..

Refrain – a Novel by Winna Efendi

Refrain: Saat Cinta Selalu Pulang - the Book Cover

Awalnya gw sama sekali ga ada niat buat beli novel ini. Tapi karena cover dan review di belakangnya menarik, gw jadi penasaran. Akhir-akhir ini gw memang sensitif dengan istilah ‘sahabat jadi cinta’. Jadi yaa forgive my curiosity 😛

Ok, on with the story. Tema yang diambil dari novel karangan Winna Efendi ini udah cukup sering dipake sebagai sub tema di novel-novel remaja lain. Tapi kali ini, dia menjadikan tema ‘cinta yang tumbuh dari persahabatan’ sebagai tema utama. A brave decision, since it’s kinda hard to make a progress with a general theme..

Mungkin karena tema itu juga, jadinya ceritanya, seperti yang dituliskan di back covernya, hanya menjadi ‘sebuah kisah cinta sederhana’. Yes, very simple indeed… It’s so simple, I could guess the ending in the 85th page from this 317-page novel. Hal yang membuat gw ga bosan dari membaca novel ini adalah deskripsi tokoh-tokoh buatan Winna yang membuat gw penasaran akan ceritanya (walopun endingnya bisa ketebak).

Buat gw Gagas Media ga salah dalam memilih naskah yang akan diterbitkan. Mereka pasti udah tau segmen pasar seperti apa yang jadi target penjualan. Novel buatan Winna ini memang tidak luar biasa (dan tidak bisa dibilang biasa-biasa saja juga sih), tapi mereka mengemasnya dengan cover yang menarik dan back cover yang menggelitik indera penasaran (emang ada gitu indra penasaran? Ngaco aja gw mah :P)pembaca-pembaca seperti saya 😛 Oh well, I guess 7 out of 10 was not so bad, right?

Tea For Two – a Novel by Clara Ng

Tea For Two - the Book Cover

Kalo boleh jujur, gw memang rada diskriminatif dengan novel-novelnya Clara Ng. Kadang gw ga baca back covernya, cuma liat yang bikin Clara Ng buku itu langsung gw bawa ke kasir 😛 Well she’s one of my favourite novelist, so I can’t help it 😛

Sampe rumah, gw baru benar-benar membaca dengan seksama judul, cover, dan back cover dari novel yang dimuat sebagai cerita bersambung di Kompas ini. Judulnya Tea For Two. Aaah so romantic.. Tapiii kenapa gambar covernya kayak cover novel horor?? Gw baca di belakangnya, ternyata novel ini membahas tentang KDRT. Ah, lagi-lagi KDRT.. Gimana dong, pacar aja belum gw pikirin, mana bisa gw bayangin soal pernikahan, sampe kekerasan di dalamnya? Dan keluarga gw, thank God, jauh dari yang namanya kekerasan itu. Makanya gw rada ga suka ama tema KDRT yang lagi gencar di mana-mana. Jadi, first impression gw akan novel ini: Judul sama covernya ga nyambung. Memang Tea For Two adalah nama perusahaan makcomblang dari karakter utama novel ini, tapi tetep aja ga nyambung -_-

Ok, lanjut ya. Bab pertama memang shocking banget. Dalam arti, gw penasaran sama jalan cerita dan endingnya. Dan, ga seperti AE yang identik dengan slow-paced novelnya, novel-novel Clara memang fast-paced. Ga kerasa kan, kalo waktu sekian tahun diceritakan dalam novel 312 halaman? Cuma, gw perlu waktu yang cukup lama buat memahami ceritanya.. Seperti yang gw bilang tadi, KDRT bukan topik favorit gw…

Overall, this novel’s good, but not great… Kalo dibandingkan sama novelnya Clara yang gw baca sebelumnya (Gerhana Kembar) novel ini masih belum bisa dibandingkan.. But still, 8 out of 10 is good enough.

Nyonya Jetset – a Novel by Alberthiene Endah

Nyonya Jetset - The Book Cover

Pas ntu ceritanya gw lagi iseng search account twitter-nya Alberthiene Endah (AE), dan kebetulan ada yang mention namanya, sekaligus buku ini. Eureka! Akhirnya ada novel AE yang baru 😀

Seperti biasa, gw memulai sesi membaca novel 360 halaman ini dengan antusiasme yang tinggi. Jelas, rasanya udah bertahun-tahun ga baca karya dari salah satu novelis favorit gw ini Apalagi di covernya ada tulisan ‘Based on A TRUE STORY’. Buset, kayaknya heboh banget yak.. Tambah penasaran deh gw sama isi dari novel ini, sekaligus ‘model’ utama dari ceritanya.

Awalnya gw menyangka bahwa cerita dari Nyonya Jetset ini mirip kayak Cewek Matre, karya AE bertahun-tahun lalu. Tapi ternyata bukan, saudara-saudara senegara dan setanah air! Kalo dibaca dari review di belakang bukunya, ternyata inti cerita dari novel yang cetakan pertamanya Juli 2009 ini tentang KDRT. Bukan, bukan Kris Dayanti ato apapun itu, tapi Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Haha~ tipikal AE, selalu mengambil trending topic di ibukota saat ini J

Tokoh utama dari novel ini, seperti kebanyakan dari novel AE lainnya, adalah seorang lajang kota yang berparas menarik dan cantik. Namanya Roosalin, seorang model yang menikah dengan Edwan Susantono, seorang putra dari konglomerat di Jakarta. They fell in love at first sight, and married a few months later. Singkat cerita, ternyata Edwan tidak lebih dari seorang psikopat, jauh dari apa yang dibayangkan Roos sebelumnya. Selanjutnya, yaa silakan baca sendiri bukunya :p

Menginjak pertengahan dari novek ini, sebenarnya gw rada sangsi sama ending ceritanya. Well, gw ga berharap banyak akan happy ending (hey, most people hoped for a happy ending. Well I don’t  J). Gw justru sangsi endingnya bisa gw tebak sebelumnya. And boy oh boy did I guessed it :p Buat gw, novel yang bagus bukan novel yang memberikan happy ending, tapi ending yang memberikan makna mendalam bagi pembaca. Lebih bagus lagi kalo ending itu ga bisa ditebak sebelumnya :p Sayangnya ga banyak novelis yang bisa memberikan kemewahan ini. Siapa bilang menulis itu gampang? Okay, scratch that. Siapa bilang menulis novel yang bagus itu gampang?

The point is, gw rada kecewa dengan AE kali ini… Maybe I’m used to her slow-paced novels, but I’m not satisfied with the ending.. Gw mengharapkan ending yang lebih ‘ngena’ ke gw, dan gw ga mendapatkan hal tersebut. For this novel, I grade it 7 out of 10. Sorry AE…

Gerhana Kembar – a Novel by Clara Ng

gerhanakembar.jpg

Hiks… Baru aja selesai baca Gerhana Kembar. Thanks buat Ratna yang udah merekomendasikan novel yang menurut gw bener-bener indah ini… Setelah gw nerima comment dari Ratna, gw langsung ngebut ke Uranus buat beli buku ini. Sampe rumah, nyomot roti, ganti baju cepet-cepet, dan langsung mbaca buku ini. Hasilnya? Gw larut ke dalam dunia yang udah Clara bikin di novel ini…

Sekilas tentang buku ini. Lendy, seorang editor, menemukan naskah di lemari neneknya. Dari naskah itu, Lendy seolah-olah menemukan kunci untuk mengetahui isi hati neneknya. Neneknya yang lesbian, hingga neneknya yang bersedia berkorban untuk anaknya. Kayaknya cukup segitu aja, secara gw ga mau spoiler banyak-banyak :).

Eniwei, sesuai dengan ciri khas Clara, dia make alur campuran di sini. Di tengah-tengah cerita tentang masa lalu, Clara tetap menceritakan masa yang sedang terjadi. Meskipun begitu, Clara merangkainya menjadi satu bagian tanpa membingungkan pembaca setianya. Benar-benar khas Clara. Well, mungkin untuk beberapa orang yang belum terbiasa membaca novel-novel Clara akan sangat membingungkan. Mana yang flashback, mana yang sedang terjadi, campur jadi satu. Tapi buat gw, this book is perfect. Bukan cuma ceritanya yang jempolan, tapi Clara juga menunjukkan betapa cinta itu ngga memandang jenis kelamin. Sesederhana itu. Kutipan dari Mother Teresa dari Calcutta menunjukkan itu di halaman pertama buku ini.

I found the paradox : that if you love until it hurts, there can be no more hurt, only more love.

Sejauh ini gw baru baca 3 novel berunsur homoseksualitas, Detik Terakhir, Dicintai Jo, dan yang terakhir Gerhana Kembar. Dan menurut gw, dari ketiga novel tersebut, Gerhana Kembar yang paling bagus dan menyentuh. Clara memang salah satu pengarang favorit gw. Mulai dari Indiana Chronicles, Dimsum Terakhir, sampe akhirnya Gerhana Kembar, kayaknya memang udah ga bisa dipungkiri kalo Clara memang penulis yang hebat. Empat jempol buat Clara!

Four Seasons in Belgium – a Novel by Fanny Hartanti

fourseasonsinbelgium.jpg

Pertamanya males buat baca ini. Abisnya, katanya temen gw ceritanya biasa banget. Tapi ternyata dia salah.

Seperti yang gw bilang sebelumnya, setiap pengarang harus punya ciri tersendiri, yang membuat dia beda dengan pengarang lainnya. Tapi, Fanny Hartanti punya ciri yang mirip sama Alberthiene Endah. Mungkin itu yang membuat gw betah mbaca buku ini. Serasa mbaca bukunya AE. Memang engga sama persis. Ya pasti ada perbedaannya dong.

Perbedaan itu mungkin terletak di penggambaran konflik oleh pengarang. Di novel buatannya, AE selalu membuat konflik yang membuat pembacanya juga merasa terguncang dan benar-benar merasakan permasalahan yang dialami tokoh utamanya. Ini ga gw temukan di novel Four Seasons in Belgium. Permasalahannya kurang mengena ke gw. Perasaan Andin yang harus menerima kenyataan bahwa ia hamil di luar nikah kurang membuat gw mikir ato seenggaknya ikut merasakan penderitaannya.

Tapi, setiap novel memberikan pelajaran yang baru ke gue. We have to choose our own lives, even in the hardest part of it. But, as hard as it may be, we have to choose it anyways. And sometimes, to choose between two choices, the best choice is not to choose at all. Andin had to choose between Dave or Nick. But she didn’t choose any of them. Sometimes, if I was given two choices, I thought I had to choose one of them. But I never thought I could choose none of them.

But still, in Andin’s case, it’s stupid to not choose Nick. He’s waaaay better than jerk-ass Dave, and deep down, Andin knew it. Tetep aja, cinta itu buta. Andin memutuskan untuk ngga milih siapa-siapa karena dia ngga memilih Dave. Hellooo??? Nick said that he loved her. Trus kenapa harus bingung lagi? Bukannya wanita memang ingin dicintai daripada mencintai? Semua butuh proses, yang pastinya. Tapi menurut Andin, dia ga butuh proses untuk mencintai Nick. Dia cuma merasa sayangnya ke Nick hanya sebagai sahabat. Okay, maybe I didn’t understand her. But still, I think it’s stupid to not choose at all when you know that there’s one choice that’s better than the other…

DJ & JD – a novel by Primadonna Angela & Syafrina Siregar

dj.jpg

Lagi-lagi, gw cuma ngabisin waktu 4 jam buat ngabisin novel ini. Bukan karena menarik, tapi karena gw ga ada kerjaan :). Gw baru aja dipinjemin 3 novel yang baru dibeli temen gw. Dia nawarin, mau minjem apa ga. Karena memang g ada bacaan, gw iya-in aja. Lumayan, buat bikin mata cape dan ngantuk. Akhir-akhir ini gw susaaah banget tidur. Masuk kamar jam 11, jam 2 belum tentu gw udah tidur. Cuma guling-guling ga jelas sambil berusaha tidur.

Okeh. Kembali ke DJ & JD. Seperti yang udah diperkirakan sebelumnya, Donna dan Nana memang punya gaya mengarang yang berbeda. Tapi perbedaan itu ga membuat buku ini jadi punya dua jalan cerita. Ya memang itu sudah seharusnya kan? Donna berperan jadi JD, cewe manis yang gila kebersihan dan dandan (ga bingung kan?). Nana jadi DJ, kakak kembar JD yang tough dan ga suka sama yang namanya kerapian. Ini ide yang sangat menarik. Mengambil salah satu karakter yang berbeda sifat dan menggabungkannya cerita yang mengalir.

Tapi, di mana ada kelebihan, ada juga kekurangannya. Lagi-lagi, bahasa di novel yang selalu gw permasalahkan. Kok kayaknya bahasa Indonesia yang dipake terlalu formal ya? Formal di sini maksud gw terlalu baku. Gw ga tau Metropop itu bacaannya remaja ato wanita dewasa. Tapi yang pasti, buku ini ceritanya terlalu remaja, tapi bahasanya terlalu dewasa atau formal. Jadi seolah-olah buku ini di tengah-tengahnya novel remaja dan novel dewasa. Sebenernya ga papa, cuma menurut gw aneh aja. Donna nulis dengan bahasa wanita dewasa, Nana nulis dengan bahasa remaja. Memang, ke’khas’an ini menggambarkan dua cewe yang berbeda. Kembali lagi, menurut gw aneh.

But, overall, novel ini lumayan. Nilai tujuh dari skala satu sampe sepuluh. Penggambaran Singapura-nya juga bagus, menandakan salah satu (atau malah keduanya) pernah tinggal di Singapura cukup lama. Ceritanya juga lumayan, walaupun udah bisa gw tebak setelah baca dua per tiga dari buku.

Pretty Prita – a Novel by Andrei Aksana

pretty.jpg

Beberapa kali gw ngeliat novelnya Andrei di toko buku. Salah satunya, Lelaki Terindah. Dari covernya, gw udah bisa nebak kalo Andrei adalah penulis yang bahasanya amat sangat maskulin. Keliatan banget deh, kalo dia bener-bener cowok. Walaupun gw belum pernah baca buku itu, gw bisa yakin kalo teori gw itu benar setelah baca Pretty Prita.

Ceritanya fiksi banget sih, tapi yang gw suka dari novel ini adalah nilai moralnya. Di novel ini, Farrel sering mengeluh sama Gaby, ceweknya. Tapi gimana kalo Farrel merasakan sendiri gimana susahnya jadi cewek? Nah lho. Ini yang menurut gw alasan kenapa Pretty Prita sangat menarik.

Sakitnya pas menstruasi, keliling-keliling buat nyari baju dengan harga semurah mungkin, sampe baca novel-novel yang menurut cowo cuma-ngabisin-duit-buat-beli-tisu-gara-gara-baca-novel. Di sini gw dapet quote yang menurut gw cewek banget.

No means yes, and yes means Yes with a big Y

Quote itu udah pernah gw tulis di post gw yang sebelum-sebelumnya. Quote ini menurut gw cewek banget karena menggambarkan gimana complicated-nya seorang cewek. Katanya nggak mau, tapi kok ngeliatin terus? Itu salah satu pertanyaan yang mungkin sering banget dipikirin sama cowo-cowo.

Banyak banget pelajaran yang gw dapet setelah baca novel ini. Saking banyaknya, ga akan cukup kalo ditulis di sini. Pretty Prita adalah bacaan yang sangat wajib untuk dibaca. Andrei dengan hebat menceritakan semua itu dengan bahasa yang maskulin, namun sangat feminis dan chic. Two thumbs up for Andrei!