Beasiswa : Meringankan atau Menyulitkan? Part 1

Udah lama juga yah saia ndak nulis di blog ini. Gara-gara candu Café World, Gangster City, Pet Society, dan Fishville, jadi lupa sama blog kesayangan :p

Eniwei, blog kali ini bukan untuk menceritakan kecanduan saya terhadap game-game online tersebut. Karena emosi saya sedang di ubun-ubun, dan saya merasa tidak ada media yang cukup tepat untuk menyalurkan emosi saya, saya memutuskan untuk membuat post ini. Semoga bahasa saya yang semi formal cukup menunjukkan emosi saya. Post dibuat dengan 2 bagian untuk memudahkan membaca.

Semua ini bermula dengan keinginan ibu saia agar anak perempuan satu-satunya ini menerima beasiswa dari fakultas. Beliau sering sekali cerita, “Itu lho, anaknya si ibu itu dapet beasiswa lagi lho! Kamu ga nyoba minta ta?” Karena saia adalah anak yang berbakti kepada orang tua, baik hati, dan tidak sombong (apa hubungannya coba?) saya memutuskan untuk mengajukan permintaan beasiswa. Kebetulan pas mampir ke bagian kemahasiswaan, form-form beasiswa itu bisa diambil.

Di form tersebut tertulis:

Lampiran:

–          K T M

–          K H S

–          K S K

–          Slip Gaji / Daftar penghasilan ortu. Dari Lurah*

*ditulis dengan keadaan yang sebenarnya tanpa kurang suatu apapun.

Pas baca tulisan itu, saya membatin, “Wah, simple banget? Makanya banyak yang ditolak, lha wong gampang banget persyaratannya.” Itu adalah pemikiran saya saat itu. Pemikiran itu berubah 180 derajat 2 hari sesudahnya.

Hari Jumat tanggal 18 Februari 2010 saya bermaksud merampungkan pengajuan beasiswa tersebut. Form sudah diisi dengan rapi, fotokopi KTM, KHS, KSK, udah beres, tinggal minta surat keterangan dari kelurahan. Siang itu, saya dengan ibu saya menuju ke kelurahan. Sampe sana, langsung ditanyain KTM asli. Beres, udah bawa kok. Lha kok ternyata form-yang-sudah-ditulis-dengan-rapi itu ketinggalan dengan manisnya di meja makan… Akhirnya saya memutuskan untuk mengambilnya dan meninggalkan ibu saya sejenak di kantor kelurahan.

Sesampainya (lagi) di kelurahan, setelah menyerahkan KSK asli, langsung ditanya, “Surat pengantar dari RWnya mana?” Saya cengo (maap, ga ada kata yang lebih tepat. Bengong mungkin bisa ya). Dengan bodohnya saya bilang, “Lho? Di formulir itu kan tulisannya cuma surat keterangan dari lurah?”. Mbak petugas yang juga kenalan ibu saya itu bilang, “Iya, tapi kalo mau minta surat keterangan dari lurah, harus ada surat pengantar dari RW dulu.” Trus buat apa ya tadi saya pulang ke rumah? *amnesia mendadak*

Karena hari itu saya harus mengurus keperluan kuliah lain yang tidak bisa diganggu gugat, saya meninggalkan ibu saya (lagi) di rumah nenek saya yang menjadi tempat kerja ibu saya. Kebetulan, kantor RT/RW memang dekat dari situ. Sekembalinya dari kampus, beliau berkata bahwa kantor kelurahan baru buka jam setengah 7 malam. Saya jadi membatin lagi, “Kantor apa coba yang buka jam segitu?” Karena jam masih menunjukkan pukul 12 siang, saya memutuskan untuk pulang dulu sambil menunggu pukul 7 tiba.

Pukul 6, saya tiba (lagi) di rumah nenek saya, dan disambut dengan kalimat, “Kantornya baru buka jam 7 ki.” Ealah.. Tau gitu tadi kan lanjut lagi tidurnya… Tapi karena kalo pulang lagi nanggung, saya memutuskan untuk menunggu dan menyerahkan tubuh saya bagi nyamuk-nyamuk yang bertebaran di situ….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: