Beasiswa: Menyulitkan atau Memudahkan? Part 2

Jam 7 lebih, saya mulai tidak sabar. Aslinya memang ga suka nunggu, jadi yaa mulai emosi. Apalagi nyamuk-nyamuk itu benar-benar tidak manusiawi, benar-benar memancing emosi saia. Ayah saya yang kebetulan ada di situ, ngobrol dengan penjaga parkir warnet sebelah rumah. “Kantor RW tu bukanya jam berapa ya mas?”. Si mas-mas itu dengan entengnya bilang, “Wah, kalo itu sih bukanya jam 8 pak.” Ayah saya kaget, “Lho? Jam 8 ya? Trus tutupnya jam berapa mas?” “Jam 9 sudah tutup pak.” JDIENG! Mulai deh saya memulai demo saya dengan tweet-tweet yang menghina RW-RW. Jujur, saat itu saya belum tau kalo kantor RW buka jam 8. Dari pengetahuan umum yang saya dapat selama 19 tahun, namanya kantor itu buka jam 9 pagi dan tutup jam 5 sore. Jadi mengetahui kantor buka jam 7 saja udah aneh, apalagi jam 8? Tutupnya jam 9 pula. Masa cuma buka 1 jam?

Jam menunjukkan pukul 7.30 WIB, saya mulai tidak sabar, dan ibu saya sepertinya juga sudah lelah setelah seharian bekerja. Beliau akhirnya mengajak saya untuk ke kelurahan untuk melihat apakah kantor tersebut sudah buka. Sesampainya di sana, saya dan ibu saya disambut dengan pertanyaan dari mas-mas yang duduk-duduk di situ. “Ada keperluan apa bu?” “Mau ngurus surat mas buat anak saya. Kantornya sudah buka mas?” “Wah, ya belum bu. Jam setengah 8 baru buka.” Padahal jam saya sudah menunjukkan pukul 19.34. Karena belum ada tanda-tanda kehidupan di kantor tersebut, saya dan ibu saya menunggu (lagi) di depan kantor tersebut.

Pukul 8, ada seorang bapak-bapak datang. Kebetulan di situ ada ibu-ibu yang sepertinya mau mengurus KTP, dan bilang, “Nah, itu lho pak RTnya sudah datang!” Ibu saya langsung mengajak saya menuju kantor RT. Di dalam, ada meja-meja kecil bertuliskan nomor-nomor. Karena di KTP saya tertulis bahwa RT saya adalah RT 01, saya menunggu (lagi) di dekat meja kecil bertuliskan 01. Sekitar 10 menit, datanglah bapak-bapak yang membuka kunci di meja tersebut dan mempersilakan saya dan ibu saya untuk duduk. Setelah menyerahkan KSK asli dan form-yang-sudah-ditulis-dengan-rapi, bapak itu menuliskan sesuatu di buku besar, kemudian menuliskan surat kecil yang bertanda-tangan. Setelah menulis, beliau menyerahkan surat tersebut kepada saya untuk ditanda-tangan, dan kemudian mempersilakan saya untuk menuju kekantor RW yang terletak di bawah kantor RT.

Di kantor RW, saya mulai merasa lega. Penantian ini sebentar lagi akan berakhir, dan besok semuanya sudah beres, pikir saya. Di kantor RW, sekretaris RW menanyakan surat saya. “Surat apa ya mbak? Di kantor RT barusan saya cuma dikasih surat ini.” Mbak sekretaris itu mengiyakan saja. Kemudian pak RW masuk, dan melihat-lihat form saya. Surat yang diberikan oleh pak RT itu juga diambil, sambil berkata kepada saya dan ibu saya, “Ditunggu di kantor RT sebentar ya bu, suratnya mau saya stempel dulu.” Langsung terpikir dalam benak saya, mau ngasih stempel aja kudu nunggu di atas? Emangnya stempelnya di atas? Bukannya ini kantornya RW?

Saya dan ibu saya menurut saja, dan naik (lagi) ke kantor RT. Setelah duduk sebentar, ada bapak-bapak yang menanyakan kepada ibu saya. Kira-kira percakapannya seperti ini.

Bapak-bapak (BB): Ibu yang minta surat pengantar ke kelurahan buat beasiswa ya bu?

Ibu saya (IS): Betul pak.

BB: Kalau mau minta surat ke kelurahan, ndak bisa bu kalo cuma menyerahkan surat dari RW. Paling tidak harus ada surat pernyataan bermeterai 6000 seperti ini (memperlihatkan fotokopian) yang harus ditulis tangan.

IS: harus pake itu ya pak? Kalo misalnya ndak ada?

BB: ya ditolak bu sama kelurahannya.

IS: (melihat ke saya dengan tatapan letih, entah emosi entah lelah) tuh, kamu harus buat surat dulu, dikasih meterai 6000.

BB: trus ibu juga harus mbawa kartu kuning* pas menyerahkan ke RT (sambil menyerahkan fotokopian kepada ibu saya)

IS: (memberikan fotokopian kepada saya) ni kamu tulis dulu.

Gw: (dengan malas-malasan mengetik kata2 tersebut di handphone. Kemudian menemukan kejanggalan dari fotokopian tersebut.) Sebenernya ini yang nulis orang tuanya atau anaknya sih? Kok yang ditulis tangan ni orang tua, trus di belakangnya atas nama siswa yang diketik, di belakangnya lagi juga ada atas nama siswa, tapi isinya beda?

BB: iya, yang ditulis tangan itu orang tua siswanya. Harus ditulis tangan dan dikasih meterai. Yang siswa itu diketik juga ndak papa, tapi isinya kira-kira harus seperti itu.

IS: kalo misalnya ndak gini ndak bisa pak?

BB: ya ndak papa bu, tapi di kelurahan nanti bisa ditolak.

Gw: (menghembuskan napas panjang-panjang)

*saya kurang tau kartu kuning yang dimaksud kartu seperti apa, tapi sepengetahuan ibu saya, kartu itu semacam kartu iuran sampah dll.

Di luar kantor RT, demo saya mengenai beasiswa dimulai kembali. Tidak berlangsung lama, ada comment dari kakak kelas saya, yang menyatakan bahwa beasiswa tersebut hanya bisa diterima jika ada keterangan tidak mampu. What?? Lah terus dari tadi siang tuh buat apa coba??? Mending duduk manis di rumah deh!

Gw sempet baca sedikit surat pernyataan yang dicontohin di kantor RT, isinya memang dari seorang bapak yang minta pengajuan beasiswa karena keluarganya pengen mengurangi pengeluaran buat anaknya. Tapi, si BB di kantor RT itu bilang, beasiswa kan macem-macem, ga buat yang keluarga ga mampu aja. Ada beasiswa prestasi juga. Lagipula, di form Cuma ditulis, ‘membantu mengurangi beban biaya sekolah’. Nah? Berarti ga cuma buat yang ga mampu juga dong? Yang sekiranya mampu tapi pengen mengajukan juga (seharusnya) boleh, dengan catatan beasiswa karena prestasi, dll.

Katanya pelayanan publik. Namanya melayani, seharusnya kan memberikan kemudahan dan kejelasan. Kalo cuma ditulis surat dari lurah, ya udah surat dari lurah. Kenapa harus buat surat pernyataan dulu? Kalo memang benar-benar dibutuhkan, mbok yaaaaaaaa ditulis di formnya, ato paling ngga di kantor lurah sendiri harus memberikan info kalo sekiranya ingin meminta surat keterangan harus disertakan surat pernyataan.

Gila, suratnya bermeterai 6000 lho! Haloooo, ini beasiswa, bukan kredit motor! Meterai 6000 itu kan sudah menyatakan dengan sah, dan bisa dituntut secara hukum. Berapa sih, harganya beasiswa itu? Bukannya gw menganggap itu suatu hal yang remeh ya, tapi masalah beasiswa kaya gitu, kalopun memang bermasalah nantinya, apa harus dibawa ke pengadilan karena penyalahgunaan? Dengan kekeluargaan juga beres, ato nggak ya udah beasiswa dicabut. Gampang kan? Sesuatu yang (seharusnya) mudah kok malah dibuat ribet sih?

Trus lagi, yang bener-bener bikin gw bingung, RW ternyata ga dibayar sama pemerintah, tapi ditunjuk sama masyarakatnya. Which means, dia mau ke kantor ato ngga, ya ga peduli. Lha wong gajinya ngga tetap. Jelas kan kenapa jadi ga jelas dan menyulitkan gitu? Karena si RT ga memiliki sense of belonging terhadap pekerjaannya itu, dan ga punya motivasi yang kuat buat datang tepat waktu ke kantor. Kalo memang itu pelayanan masyarakat, yang mendasar dan berpengaruh pada tingkat-tingkat di atasnya, ya udah lah dikasih gaji yang jelas, jam kerja yang jelas. Kenapa? KARENA ITU PELAYANAN PUBLIK. Kalo memang RT dan RW itu penting buat ngurus keperluan ke Kelurahan dan Kecamatan, yang kemudian ke Kabupaten, kenapa keadaannya carut marut dan ga jelas?

Gimana Indonesia mau berkembang, kalo dasarnya aja udah kacau?

P.S.: Doakan semoga aspirasi saya ini dianggap sebagai wakil dari suara-suara lain, dan bukan sekedar kritik yang bisa menghasilkan gugatan kepada saya. Saya merasa bahwa saya masih memiliki hak berbicara dan menyatakan aspirasi saya. Hey, this is my blog. I have my rights to say what I want here.

Advertisements

One thought on “Beasiswa: Menyulitkan atau Memudahkan? Part 2

  1. inaaaaaaa says:

    wow… like this posting.. hhe gara2 nyari info2 beasiswa, nyasar sampai sini.. bukan hanya kelurahan yg bikin ribet, tapi dari pihak fakultas yang dibayar pun tetep mempersulit, tinggal ngasih stempel aja perlu nunggu 2 hari.. what the..*curcol
    rate gan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: