Coach Carter (2005)

Dulunya gw sama sekali ga tau soal film ini. Padahal kalo soal ‘Black Movies’ atau film-film yang dimainin sama African-American, biasanya langsung gw uber 😛 Film ini langsung melesat di kalangan pecinta basket Surabaya setelah DetEksi Basketball League (sekarang Development Basketball League) mengadopsi sistem student athlete dari film ini.

Thomas Carter mengambil setting film di Richmond, the typical ghetto hood yang mayoritas penduduknya adalah orang kulit hitam. Selayaknya sekolah-sekolah di amerika, Richmond memiliki satu tim basket SMA, Richmond Oilers yang berisi siswa-siswa males dan ga disiplin. Di sinilah Coach Carter (Samuel L. Jackson) diminta untuk melatih dan mendisiplinkan tim itu, sebagai alumni dan pemegang rekor steal, assist, dan point yang bertahan selama bertahun-tahun. Untuk mendisiplinkan pemainnya, mereka diminta untuk datang tepat waktu ke gym, memiliki GPA (kalo di Indonesia semacam Indeks Prestasi) minimal 2,3. Ga Cuma itu, mereka juga harus duduk paling depan di kelas dan make dasi dan jas (ato semacam jaket) ke pertandingan. Huff, bener-bener disiplin yak -_-

Well, sebenernya gw rada penasaran juga awalnya sama film ini. Apalagi setelah DBL makin terkenal di Indonesia dengan konsep student athlete-nya itu, nyari film ini jadi makin susah. Ga cuma sekali gw nyari DVDnya, dan ternyata habis. Oh well, film ini dianggap sebagai pedoman awal buat memahami DBL mungkin 😛

Oh, buat yang ga ngerti DBL itu apaan, DBL itu pertandingan basket sekolah yang diadakan sama DetEksi Jawa Pos dari tahun 2004. Yang awalnya hanya pertandingan untuk SMA di sekolah-sekolah Jawa Timur, sekarang DBL udah merambah ke dunia SMP dan banyak daerah di Indonesia. DBL juga jadi kompetisi basket di Indonesia pertama yang bekerjasama dengan NBA. Yup, NBA , yang di Amerika ntuu 😛 Tahun 2008 Danny Granger (Indiana Pacers) udah mengunjungi Surabaya, diikuti Kevin Martin (Sacramento Kings) yang membuka pertandingan final SMA di Surabaya sekaligus memberikan pelatihan secara langsung dan khusus bagi pemain-pemain pilihan dari seluruh Indonesia. Cool, right? Well, I’m a big fan of it 😀

Dan konsep yang terkenal dari DBL adalah konsep student athlete, di mana student didahulukan, bukan kemampuan mereka sebagai atlit. Udah lebih dari sekali kejadian di mana pemain-pemain top sekolah ga bisa ikut main karena ga memenuhi persyaratan pertandingan. Jangan salah, DBL means what they said. Terlambat pertandingan, diskualifikasi. Pemain atau cheerleader kurang, diskualifikasi. Not to mention the fine and the shame you’ll get though 😦

Well, kayaknya gw malah jadi terlalu bersemangat menceritakan soal DBL sampe lupa sama Coach Carter 😛 Bintang utama dari film ini, jelas lah ya, Samuel L. Jackson. He’s one of the best actors, I guess. I love most of his movies. Walopun filmnya ga seberapa bagus, tapi karena dia, film itu jadi berkarisma (halah). The point is, salah satu kesuksesan film diukur dari pemainnya kan? Dan Samuel L. Jackson adalah salah satu pemain pentingnya 🙂 Buat gw, Thomas Carter cukup berhasil membuat film yang bermakna bagi para pecinta basket. Gw rasa film ini cukup membuka mata masyarakat bagaimana seharusnya memperlakukan seorang siswa yang memiliki bakat sebagai atlit. And for that, I give this movie 8 out of 10 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: