Ketika Eksistensi Dipertanyakan..

well, gw rasa judul yang gw pake terlalu ‘berat’ untuk sesuatu yang sebenarnya sangat simpel..

apapun lah, gw cuma pengen merenungkan tentang hal ini, dengan bertanya jawab dengan diri gw sendiri…

“Hei, sebenarnya apa eksistensi itu?”

“Eksistensi? Hmmm.. Kalo gw pikir sih eksistensi itu ada tidaknya diri kita.. Diliat dari kata dasarnya, yaitu eksis (dih, ngasal banget gw), kan berarti ada, bisa dilihat dengan mata, bisa dibuktikan keberadaannya. Iya kan?”

“Iya sih.. Tapi apakah hanya dengan cara itu eksistensi seseorang bisa dibuktikan?”

“Hmm? Maksudnya?”

“Yaah katakanlah, dua orang manusia yang tidak pernah bertemu sebelumnya sudah berbagi banyak hal, mulai dari hal yang biasa sampe hal yang bisa dibilang cukup pribadi. Kenapa hal itu bisa terjadi? Padahal orang yang satu kan ga tau eksistensi dari orang yang diajak berkomunikasi itu?”

“Iya ya.. Jadi cukup meragukan ya..”

“Iya kan? Bisa aja dia jadi meragukan eksistensi lawan bicaranya itu.”

“Memang. Tapi bukankah manusia sebenarnya hanyalah makhluk sosial yang hanya membutuhkan orang lain? Entah itu untuk bercerita, berdebat, bahkan bertengkar sekalipun. It takes two to tango, right?”

“Betul juga.. Tapi ketika eksistensi itu dipertanyakan, lalu bagaimana? Jika si A memang benar-benar ada, dan ia juga yakin bahwa si B benar-benar ada, tapi bagaimana si A bisa tau kalo si B juga ada? Bukankah eksistensi si B tidak jelas? Bisa saja si B hanyalah khayalan dari si A, alias teman imajinernya. Iya kan?”

“Sangat masuk akal, karena manusia memang memiliki tendensi untuk tidak mempercayai suatu hal tanpa melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.”

“Lalu?”

“Yaah walaupun di zaman yang katanya serba modern ini komunikasi semakin mudah dan tanpa batas, tetap saja susah untuk membuktikan eksistensi itu tanpa melihatnya secara langsung.”

“Hmmmm.. Kan sekarang ada web-cam. Bisa aja kaan?”

“Hahahahaha.. Kalaupun menggunakan web-cam, akan lebih menyenangkan dengan bertatap muka secara langsung kan? Misalkan saja, dua subjek yang kita bicarakan tadi, si A dan si B, sedang bertengkar. Bukankah emosi si A akan lebih mudah tersampaikan dengan memukul B secara langsung? Atau, jika si B ingin menenangkan si A yang sedang down, bukankah maksud si B akan lebih tersampaikan dengan memegang tangan si A dan berkata, ‘Kamu kenapa? Ceritakan semuanya.. Aku di sini…’ daripada hanya mengirim sms berisikan ‘Sabar ya..’?”

“Mmmm konteks kita kan pake web-cam tadi? Kok dimasukin sms juga? Ga efisien dong?”

“Itu kan contooooh. Misalnya aja gitu. Apalagi jika si A sedang sakit, dan si B ga bisa berbuat banyak untuk membuat si A merasa lebih baik.. Bukannya itu menyakitkan?”

“Bener banget.. Emang sakit banget rasanya kalo kita ga bisa berbuat banyak ketika orang yang kita sayang lagi sakit..”

“See? Gw rasa lu cukup mengerti apa maksud gw.”

“Iya, tapi… Gimana kalo lagi-lagi jarak yang memisahkan? Dan teknologi komunikasi tidak lagi mampu untuk memperkecil jarak itu?”

“Tenang aja, kan masih ada teknologi transportasi?”

“Kalo dihalangi dengan edukasi? Dan ekonomi?”

“Ha? Apa hubungannya edukasi, ekonomi, sama komunikasi?”

“Yaela, masa gitu aja ga ngerti? Edukasi itu kan pendidikan, berarti waktu untuk komunikasi itu terhalang oleh urgensi edukasi. Ngerti kan maksudnya?”

“Hooo iya iya. Trus kalo ekonomi?”

“Ya duit laaah. Zaman sekarang mana bisa gitu tanpa duit?”

“Hahahahahaha.. Jadi maksudnya terhalang oleh waktu dan keadaan ekonomi? Bahasa lu ribet banget sih?”

“Yee.. Boleh dong gw rada ilmiah dikit.”

“Well, i think it’s just a matter of time. Kalo memang akan ketemu, suatu saat juga akan ketemu. Semuanya dimulai dengan niat, dan kalo Tuhan memang berkenan, jalan itu pasti dibukakan. Bukannya Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan?”

“Tapi sampai kapan? Gimana kalo eksistensi itu mulai diragukan, hingga keragu-raguan itu yang tersisa?”

“Manusia bisa berharap, namun cuma Tuhan kan yang bisa mengabulkan? Hanya Tuhan yang tahu kapan waktu itu akan datang..”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: