Monthly Archives: December 2009

My Christmas This Year.

Ga ngerasa banget kalo udah natalan lagi. Kayaknya tugas-tugas gw selama setahun ini berhasil memanipulasi otak gw mengenai waktu… Tau-tau udah *dzing* natalan lagi. Apa-apaan ini?

Yah, sekedar live report dari keadaan gw dan rumah gw sekarang ini, gw baru bangun sekitar satu jam yang lalu, ato jam 9an lah (hey, it’s holiday, i wake up anytime i want to, with no assignments haunting). Rumah masih sepi (ato gw yang asik dengerin lagu, jadinya ga denger?) dan kakak gw masih belum menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Well, like brother like sister. Ni gara-gara acara nobar Orphan tadi malem, jadinya baru tidur tengah malem. Oke, kembali ke rumah gw. Malah ngelantur deh topiknya..

It’s Christmas, but there is one thing you’ll never found in my house this year. Christmas tree. Yep, taun ini ga ada pohon natal yang menghiasi ruang tamu rumah gw. Kenapa? Simpel aja, beberapa hari sebelum natal ge kelayapan, nyokap gw sibuk, dan pembantu gw masih belum tau di mana letak si pohon disimpen. Bokap sama kakak gw? Jangan tanya mereka. They don’t give a damn about the tree. With or without it, it’s Christmas anyways, they said.

Well, i’m gonna have to agree with my dad and bro. Pohon natal kan cuma hiasan, ada atopun ga ada, ga akan merubah kenyataan adanya natal. Although, i have to admit, gw ngerasa ada yang kurang dengan ketiadaan pohon ntu..

Tadi malem, ada temen gw nanya, kenapa ada pohon natal? Kenapa harus cemara? Pertanyaan yang bagus, karena gw sama sekali lupa sama asal usul pohon natal ntu. Mungkin karena itu juga, semangat buat menghias pohon ntu ‘hilang’.

Dan lagi, misa natal taun ini, karena gw dapet tugas misa terakhir tanggal 25, jadinya agak ‘garing’ misanya.. Taun lalu gw dapet tugas misa mudika tanggal 24, dan itu meriah banget! Not to mention it’s the best mass ever in my life! Well, compare to that, this year’s mass was nothing.. Berkurang lagi deh excitement natal taun ini.

Trus lagi, biasanya kalo natal nyokap gw masak besar-besaran, tapi taun ini ‘cuma’ nasi uduk sama pempek. Halah. Agak garing juga kan.. Tapi enak sih :p

Semua ketidakpuasan akan natal taun ini langsung lenyap pas gw baca tweet dari P-Diddy. Dia bilang, natal taun ini banyak yang ga makan dan ga bisa minum. Kenapa kita yang bisa merayakan natal masih belum grateful? JDIANG!

Haah.. namanya manusia memang sering ga puas sama apa yang udah kita punya. Mungkin itu kenapa Tuhan ga selalu ‘mengangkat’ hamba-Nya, tapi juga melemparkannya ke tanah dan permukaan kasar lain, supaya manusia sadar bahwa yang namanya hidup itu untuk disyukuri dan dijalani sebaik mungkin..

Apakah anda sudah bersyukur pada Tuhan hari ini?

Advertisements

About Harder Than You Know…

Lagu ini direkomendasikan sama temen gw, jadi sebelumnya I have no idea at all about this song.

Pertama denger, beginilah reaksi gw, “Ih, lagunya kok pake teriak-teriak gini?”

Hipotesis: gw ga suka sama lagunya. Aneh.

Trus pas nyari liriknya (kebiasaan gw kalo abis download lagu baru: learning the song!) dan gw edit di kompi, baru deh gw ngerti kenapa penyanyinya teriak-teriak gitu.

Jadi, kesan gw yang kedua sampe sekarang adalah: “Ini lagu gw banget.”

Sure, when you’re trying to forget someone you love, it hurts like hell. Ok, it’s an excessive thought.. I mean, you have this weird feeling in your chest. I never had a heart attack (hopefully), but i think the feeling in your chest is the same. Honestly, it hurts.. Maybe that’s why most people cry when they’re leaving or being left out by someone they love. And i felt the same way for the same person twice.

Wait, scratch that. Three times. God, it may not hurt like hell the third time, but still hurts..

Gw selalu ingat sama kata-kata ini: cinta itu ga harus memiliki. Bullshit.. When you love someone, you want to have him/her completely, vice versa. I thought i could bear the fact that the person i love already love someone else. But i’m not. I never could get past that..

Escape The Fate – Harder Than You Know

You said this could only get better.
There’s no rush, ’cause we have each other
You said this would last forever,
But now I doubt if I was your only lover.
Are we just lost in time? I wonder if your love’s the same
‘Cause I’m not over you

Baby don’t talk to me, I’m trying to let go
Not loving you is harder than you know.
‘Cause girl you’re driving me so crazy

How can I miss you if you never would stay?
If you need time I guess I’ll go away.
Inside me now there’s only heartache and pain
So where’s the fire? You’ve begun the rain.
Are we just lost in time? I wonder if your love’s the same
’cause i’m not over you

Baby don’t talk to me, I’m trying to let go
Not loving you is harder than you know.
Girl you’re driving me so crazy
And if you don’t want me then, I guess I’ll have to go
Not loving you is harder than you know

So I’ll make the call, and I’ll leave today
I’m gonna miss you ’cause I love you baby
Yeah, I’ll make the call, I’m leaving today
And leaving always drives me crazy
Leaving always drives me crazy

Baby don’t talk to me, I’m trying to let go.
Not loving you is harder than you know..

Baby don’t talk to me, I’m trying to let go
Not loving you is harder than you know.
‘Cause girl you’re driving me so crazy
And if you don’t want me then, I guess I’ll have to go
Not loving you is harder than you know
(Girl you’re driving me so crazy)

Baby don’t talk to me, I’m trying to let go.
Not loving you is harder than you know
Girl you’re driving me so crazy..

Refrain – a Novel by Winna Efendi

Refrain: Saat Cinta Selalu Pulang - the Book Cover

Awalnya gw sama sekali ga ada niat buat beli novel ini. Tapi karena cover dan review di belakangnya menarik, gw jadi penasaran. Akhir-akhir ini gw memang sensitif dengan istilah ‘sahabat jadi cinta’. Jadi yaa forgive my curiosity 😛

Ok, on with the story. Tema yang diambil dari novel karangan Winna Efendi ini udah cukup sering dipake sebagai sub tema di novel-novel remaja lain. Tapi kali ini, dia menjadikan tema ‘cinta yang tumbuh dari persahabatan’ sebagai tema utama. A brave decision, since it’s kinda hard to make a progress with a general theme..

Mungkin karena tema itu juga, jadinya ceritanya, seperti yang dituliskan di back covernya, hanya menjadi ‘sebuah kisah cinta sederhana’. Yes, very simple indeed… It’s so simple, I could guess the ending in the 85th page from this 317-page novel. Hal yang membuat gw ga bosan dari membaca novel ini adalah deskripsi tokoh-tokoh buatan Winna yang membuat gw penasaran akan ceritanya (walopun endingnya bisa ketebak).

Buat gw Gagas Media ga salah dalam memilih naskah yang akan diterbitkan. Mereka pasti udah tau segmen pasar seperti apa yang jadi target penjualan. Novel buatan Winna ini memang tidak luar biasa (dan tidak bisa dibilang biasa-biasa saja juga sih), tapi mereka mengemasnya dengan cover yang menarik dan back cover yang menggelitik indera penasaran (emang ada gitu indra penasaran? Ngaco aja gw mah :P)pembaca-pembaca seperti saya 😛 Oh well, I guess 7 out of 10 was not so bad, right?

Tea For Two – a Novel by Clara Ng

Tea For Two - the Book Cover

Kalo boleh jujur, gw memang rada diskriminatif dengan novel-novelnya Clara Ng. Kadang gw ga baca back covernya, cuma liat yang bikin Clara Ng buku itu langsung gw bawa ke kasir 😛 Well she’s one of my favourite novelist, so I can’t help it 😛

Sampe rumah, gw baru benar-benar membaca dengan seksama judul, cover, dan back cover dari novel yang dimuat sebagai cerita bersambung di Kompas ini. Judulnya Tea For Two. Aaah so romantic.. Tapiii kenapa gambar covernya kayak cover novel horor?? Gw baca di belakangnya, ternyata novel ini membahas tentang KDRT. Ah, lagi-lagi KDRT.. Gimana dong, pacar aja belum gw pikirin, mana bisa gw bayangin soal pernikahan, sampe kekerasan di dalamnya? Dan keluarga gw, thank God, jauh dari yang namanya kekerasan itu. Makanya gw rada ga suka ama tema KDRT yang lagi gencar di mana-mana. Jadi, first impression gw akan novel ini: Judul sama covernya ga nyambung. Memang Tea For Two adalah nama perusahaan makcomblang dari karakter utama novel ini, tapi tetep aja ga nyambung -_-

Ok, lanjut ya. Bab pertama memang shocking banget. Dalam arti, gw penasaran sama jalan cerita dan endingnya. Dan, ga seperti AE yang identik dengan slow-paced novelnya, novel-novel Clara memang fast-paced. Ga kerasa kan, kalo waktu sekian tahun diceritakan dalam novel 312 halaman? Cuma, gw perlu waktu yang cukup lama buat memahami ceritanya.. Seperti yang gw bilang tadi, KDRT bukan topik favorit gw…

Overall, this novel’s good, but not great… Kalo dibandingkan sama novelnya Clara yang gw baca sebelumnya (Gerhana Kembar) novel ini masih belum bisa dibandingkan.. But still, 8 out of 10 is good enough.

Nyonya Jetset – a Novel by Alberthiene Endah

Nyonya Jetset - The Book Cover

Pas ntu ceritanya gw lagi iseng search account twitter-nya Alberthiene Endah (AE), dan kebetulan ada yang mention namanya, sekaligus buku ini. Eureka! Akhirnya ada novel AE yang baru 😀

Seperti biasa, gw memulai sesi membaca novel 360 halaman ini dengan antusiasme yang tinggi. Jelas, rasanya udah bertahun-tahun ga baca karya dari salah satu novelis favorit gw ini Apalagi di covernya ada tulisan ‘Based on A TRUE STORY’. Buset, kayaknya heboh banget yak.. Tambah penasaran deh gw sama isi dari novel ini, sekaligus ‘model’ utama dari ceritanya.

Awalnya gw menyangka bahwa cerita dari Nyonya Jetset ini mirip kayak Cewek Matre, karya AE bertahun-tahun lalu. Tapi ternyata bukan, saudara-saudara senegara dan setanah air! Kalo dibaca dari review di belakang bukunya, ternyata inti cerita dari novel yang cetakan pertamanya Juli 2009 ini tentang KDRT. Bukan, bukan Kris Dayanti ato apapun itu, tapi Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Haha~ tipikal AE, selalu mengambil trending topic di ibukota saat ini J

Tokoh utama dari novel ini, seperti kebanyakan dari novel AE lainnya, adalah seorang lajang kota yang berparas menarik dan cantik. Namanya Roosalin, seorang model yang menikah dengan Edwan Susantono, seorang putra dari konglomerat di Jakarta. They fell in love at first sight, and married a few months later. Singkat cerita, ternyata Edwan tidak lebih dari seorang psikopat, jauh dari apa yang dibayangkan Roos sebelumnya. Selanjutnya, yaa silakan baca sendiri bukunya :p

Menginjak pertengahan dari novek ini, sebenarnya gw rada sangsi sama ending ceritanya. Well, gw ga berharap banyak akan happy ending (hey, most people hoped for a happy ending. Well I don’t  J). Gw justru sangsi endingnya bisa gw tebak sebelumnya. And boy oh boy did I guessed it :p Buat gw, novel yang bagus bukan novel yang memberikan happy ending, tapi ending yang memberikan makna mendalam bagi pembaca. Lebih bagus lagi kalo ending itu ga bisa ditebak sebelumnya :p Sayangnya ga banyak novelis yang bisa memberikan kemewahan ini. Siapa bilang menulis itu gampang? Okay, scratch that. Siapa bilang menulis novel yang bagus itu gampang?

The point is, gw rada kecewa dengan AE kali ini… Maybe I’m used to her slow-paced novels, but I’m not satisfied with the ending.. Gw mengharapkan ending yang lebih ‘ngena’ ke gw, dan gw ga mendapatkan hal tersebut. For this novel, I grade it 7 out of 10. Sorry AE…

cin(T)a (2009)

cin(T)a

Cina - Tuhan - Annisa = cin(T)a

dari pertama liat trailernya pun gw udah suka sama film ini. Hell, i thought this movie was a blast! let me say this again, that was when i watched the trailer, not the movie.

pertamanya sih gw tau film ini dari temen gw yang tertarik sama film itu, dan gw di-tag di notenya (ha-ha! FB tells everything :)). dia juga ngasih link trailernya, cuma karena gw ga bisa liat pada saat itu juga, gw cuekin deh tu note. sampe akhirnya temen gw cerita dan gw merasa gw harus ngeliat trailer film itu. harus.

dan pada saat gw ngeliat trailer itu, gw langsung deg-degan, terbawa sama suasana trailer itu, dan satu kata yang keluar setelah nonton trailer itu adalah: ANJR**!

maaf sebelumnya, bukan saya merasa tersinggung dengan trailer itu, tapi saya berpikir, “GILA, NI FILM GW BANGET!” mohon diketahui, saat ini saya sedang menyayangi seseorang yang berbeda agama dengan saya, dan saya merasa bahwa film ini muncul pada saat yang SANGAT TEPAT.

Oke, enough of the chit-chat. ga ada fungsinya gw babbling geje. Gw ceritain dikit deh, tapi tenang aja, it’s SPOILER-FREE yang dijamin ga akan merusak rasa penasaran anda dengan film ini 🙂

Ada dua tokoh sentral dalam film indie garapan Sammaria Simanjuntak ini. Pertama adalah Cina, seorang pemuda chinese beragama Katholik, dan Annisa, wanita berdarah jawa yang beragama Islam. Nah lho, dari tokohnya aja udah menarik kan? ha-ha! Singkat kata, they fell for each other. Tapi karena mereka memanggil Tuhan dengan cara yang berbeda, mereka ga bisa mencintai satu sama lain. Ironic, huh? Selanjutnya, silakan lihat sendiri filmnya. Tenang aja, bulan Desember 2009 DVD Originalnya udah rilis 🙂

Sedikit opini aja buat film ini, mungkin bagi orang yang berpikiran picik, film ini sangat kontroversial. Mempertanyakan tentang Tuhan, membicarakan tentang agama Islam dan Katholik, hal-hal seperti ini bagi sebagian orang Indonesia masih ‘tabu’ untuk dibicarakan. Kenapa? Simpel aja sih, mereka takut membuat the so-called ‘perpecahan’.

Haaah zaman sekarang masih mikirin gituan.. Gimana mau maju? Bangsa lain udah mikirin gimana caranya tinggal di bulan, orang di Indonesia masih mikirin gimana caranya biar tanaman di lahan bisa tumbuh subur. BASI! Ini adalah realita masyarakat, dan itulah yang dibutuhkan oleh penonton. Buat apa ditutup-tutupi? Kalian ingin film yang bisa mengintegrasikan agama? Inilah film itu.

Sammaria berhasil membuktikan bahwa film yang berkualitas ngga harus dengan budget yang tinggi. This movie is an eye-opener, just the kind of movie this country needs. Liat deh, banyak film Indonesia ga berkualitas dengan budget dengan nol 9 di belakangnya, dan tetep murahan ceritanya. Gimana mau mencerdaskan kehidupan bangsa?

Sekali lagi gw bilang, Indonesia membutuhkan film yang bisa ‘menampar’ masyarakatnya dengan realita, dan inilah film itu. Katanya Unity in Diversity? Kata-kata Bhinneka Tunggal Ika yang dicengkeram sama Garuda ga akan ada maknanya kalo rakyat Indonesia sendiri ga bisa menerima perbedaan itu dengan hatinya..

Ketika Eksistensi Dipertanyakan..

well, gw rasa judul yang gw pake terlalu ‘berat’ untuk sesuatu yang sebenarnya sangat simpel..

apapun lah, gw cuma pengen merenungkan tentang hal ini, dengan bertanya jawab dengan diri gw sendiri…

“Hei, sebenarnya apa eksistensi itu?”

“Eksistensi? Hmmm.. Kalo gw pikir sih eksistensi itu ada tidaknya diri kita.. Diliat dari kata dasarnya, yaitu eksis (dih, ngasal banget gw), kan berarti ada, bisa dilihat dengan mata, bisa dibuktikan keberadaannya. Iya kan?”

“Iya sih.. Tapi apakah hanya dengan cara itu eksistensi seseorang bisa dibuktikan?”

“Hmm? Maksudnya?”

“Yaah katakanlah, dua orang manusia yang tidak pernah bertemu sebelumnya sudah berbagi banyak hal, mulai dari hal yang biasa sampe hal yang bisa dibilang cukup pribadi. Kenapa hal itu bisa terjadi? Padahal orang yang satu kan ga tau eksistensi dari orang yang diajak berkomunikasi itu?”

“Iya ya.. Jadi cukup meragukan ya..”

“Iya kan? Bisa aja dia jadi meragukan eksistensi lawan bicaranya itu.”

“Memang. Tapi bukankah manusia sebenarnya hanyalah makhluk sosial yang hanya membutuhkan orang lain? Entah itu untuk bercerita, berdebat, bahkan bertengkar sekalipun. It takes two to tango, right?”

“Betul juga.. Tapi ketika eksistensi itu dipertanyakan, lalu bagaimana? Jika si A memang benar-benar ada, dan ia juga yakin bahwa si B benar-benar ada, tapi bagaimana si A bisa tau kalo si B juga ada? Bukankah eksistensi si B tidak jelas? Bisa saja si B hanyalah khayalan dari si A, alias teman imajinernya. Iya kan?”

“Sangat masuk akal, karena manusia memang memiliki tendensi untuk tidak mempercayai suatu hal tanpa melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.”

“Lalu?”

“Yaah walaupun di zaman yang katanya serba modern ini komunikasi semakin mudah dan tanpa batas, tetap saja susah untuk membuktikan eksistensi itu tanpa melihatnya secara langsung.”

“Hmmmm.. Kan sekarang ada web-cam. Bisa aja kaan?”

“Hahahahaha.. Kalaupun menggunakan web-cam, akan lebih menyenangkan dengan bertatap muka secara langsung kan? Misalkan saja, dua subjek yang kita bicarakan tadi, si A dan si B, sedang bertengkar. Bukankah emosi si A akan lebih mudah tersampaikan dengan memukul B secara langsung? Atau, jika si B ingin menenangkan si A yang sedang down, bukankah maksud si B akan lebih tersampaikan dengan memegang tangan si A dan berkata, ‘Kamu kenapa? Ceritakan semuanya.. Aku di sini…’ daripada hanya mengirim sms berisikan ‘Sabar ya..’?”

“Mmmm konteks kita kan pake web-cam tadi? Kok dimasukin sms juga? Ga efisien dong?”

“Itu kan contooooh. Misalnya aja gitu. Apalagi jika si A sedang sakit, dan si B ga bisa berbuat banyak untuk membuat si A merasa lebih baik.. Bukannya itu menyakitkan?”

“Bener banget.. Emang sakit banget rasanya kalo kita ga bisa berbuat banyak ketika orang yang kita sayang lagi sakit..”

“See? Gw rasa lu cukup mengerti apa maksud gw.”

“Iya, tapi… Gimana kalo lagi-lagi jarak yang memisahkan? Dan teknologi komunikasi tidak lagi mampu untuk memperkecil jarak itu?”

“Tenang aja, kan masih ada teknologi transportasi?”

“Kalo dihalangi dengan edukasi? Dan ekonomi?”

“Ha? Apa hubungannya edukasi, ekonomi, sama komunikasi?”

“Yaela, masa gitu aja ga ngerti? Edukasi itu kan pendidikan, berarti waktu untuk komunikasi itu terhalang oleh urgensi edukasi. Ngerti kan maksudnya?”

“Hooo iya iya. Trus kalo ekonomi?”

“Ya duit laaah. Zaman sekarang mana bisa gitu tanpa duit?”

“Hahahahahaha.. Jadi maksudnya terhalang oleh waktu dan keadaan ekonomi? Bahasa lu ribet banget sih?”

“Yee.. Boleh dong gw rada ilmiah dikit.”

“Well, i think it’s just a matter of time. Kalo memang akan ketemu, suatu saat juga akan ketemu. Semuanya dimulai dengan niat, dan kalo Tuhan memang berkenan, jalan itu pasti dibukakan. Bukannya Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan?”

“Tapi sampai kapan? Gimana kalo eksistensi itu mulai diragukan, hingga keragu-raguan itu yang tersisa?”

“Manusia bisa berharap, namun cuma Tuhan kan yang bisa mengabulkan? Hanya Tuhan yang tahu kapan waktu itu akan datang..”